oleh

Jenazah Korban Pembacokan Di Cugeunang Dikebumikan

-Bewara Umum-657 Dilihat

[BP] – Tatar Pakidulan

Cianjur, Bewara Pakidulan – Jenazah korban pembacokan yang dilakukan oleh anak kandungnya sendiri yang terjadi pada hari Kamis (01/04/2021) kemarin, di Kampung Sayangkaah, Desa Nyalindung, Cugenang, Cianjur. Sabtu (03/04/2021), dibawa pihak keluarga dari Kamar Jenazah RSUD Sayang Cianjur.

Pengambilan jenazah tersebut dilakukan karena pihak keluarga merasa kasihan kepada almarhum bila tidak segera dimakamkan. Pasalnya almarhum meninggal sangat tragis, dan setelah meninggal pun tak buru-buru di makamkan.

Sesampainya dirumah duka, jenazah diwarnai dengan isak yang mendalam oleh pihak keluarga. Karena semuanya tidak pernah menyangka bahwa M.S (20) anak kandung korban tega melakukam hal sekeji itu.

Berdasarkan pantauan dilokasi pemakaman pun tampak iringan jenazah hingga prosesi pemakaman terlihat wajah-wajah penuh keheranan, kenapa hal tersebut bisa terjadi di kampunya.

READ  Kapolsek Cugenang dan Forkopimcam Lakukan Penyemprotan Massal

Kepada wartawan, Makmun, pemilik kobong/ponpes tempat ngaji tersangka mengatakan, M.S itu sebenarnya baik shalat sama ngajinya juga rajin, karena memang anak pesantren. Namun setelah meninggal neneknya M.S suka menyendiri tidak berbaurlah dengan yang lain.

“Akhir-akhir ini, M.S sering melamun sendiri, ngaji, shalat bahkan makan pun nggak mau, bisa jadi pikirannya terganggu setelah neneknya meninggal,” kata Makmun.

Makmun menuturkan, saat di kobong/ponpes pun M.S sering melamun, diajak shalat hanya senyum, diajak ngaji juga senyum saja ngobrol juga nggak.

“Kemarin sebelum kejadian, M.S saya temukan dipinggir jalan di Kampung Hargeum Caringin nggak tahu mau kemana. Karena saya pikir pulang dari rumah ibu kandungnya, akhirnya saya ajak pulang ke rumah bapak kandung dan tinggal bersama ibu sambungnya di Nyalindung,” tuturnya.

READ  Herman Suherman Kunjungi Makam Bupati Cianjur Masa Periode 1966 - 1969

Hal tersebut dibenarkan oleh Ceceng ketua RT setempat, M.S sebelumnya memang rajin shalat dan ngaji karena memang tinggal di pesantren, bahkan pernah mondok di salahsatu pesantren di Banten.

“Jadi sering melamun dan menyendiri di kamar itu setelah neneknya meninggal sebulan lebihanlah,” kata Ceceng.

Sementara itu, ibu sambung M.S, Windawati (32), saat ditanya apakah tersangka ada masalah dengan keluarga atau diluar rumah, ia mengatakan, M.S sebelumnya baik-baik saja berbaur dengan teman-teman sebayanya. Namun beberapa minggu terakhir sering menyendiri dengan mengurung diri di kamar.

“Sebelum kejadian memang seperti itu banyak menyendiri, M.S kadang tinggal sama saya kadang sama ibu kandungnya juga soalnya ngobong juga di pesantren jadi nggak menetap,” kata Windawati sembari menangis.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *